Portugal meraih kemenangan 2-1 melawan Nigeria dalam pertandingan persahabatan terakhir mereka sebelum Piala Dunia, meskipun Roberto Martinez mengakui bahwa timnya tidak sepenuhnya meyakinkan dalam penampilan tersebut.
Pertandingan yang dimainkan di Estadio Dr. Magalhaes Pessoa ini menampilkan Portugal memimpin melalui Pedro Neto sebelum pemain Nigeria Akor Adams menyamakan kedudukan.
Francisco Conceicao kemudian mencetak gol kemenangan untuk tim tuan rumah. Terlepas dari kemenangan tersebut, tim asuhan Martinez hanya menciptakan 1,63 expected goals (xG) dari 13 tembakan, sementara membatasi Super Eagles hanya pada 0,33 xG dari lima percobaan.
Hasil ini menandai kemenangan pemanasan ketiga berturut-turut bagi Portugal di mana mereka mencetak tepat dua gol.
Martinez menyatakan kepuasannya atas hasil tersebut, dan menganggapnya sebagai persiapan berharga untuk pertandingan pembuka Piala Dunia melawan DR Congo pada 17 Juni.
Pelatih asal Portugal itu menyatakan bahwa Nigeria merupakan ujian yang ideal karena kemiripannya dengan Republik Demokratik Kongo.
Ia mencatat bahwa kedua tim memiliki penyerang kuat yang unggul dalam duel fisik. Martinez menekankan bahwa meraih kemenangan itu penting, tetapi mengklarifikasi bahwa tujuan utama bukanlah skor telak atau penampilan tanpa cela.
Dia menjelaskan bahwa idenya bukanlah untuk menang 5-0 atau memberikan penampilan yang gemilang. Sebaliknya, fokusnya adalah menghadapi lawan yang sulit untuk menguji aspek-aspek kunci permainan mereka menjelang turnamen.
Martinez menambahkan bahwa ia sangat puas dengan jalannya pertandingan dan apa yang ditunjukkannya tentang kesiapan skuadnya.
Hasil ini membuat Portugal berada dalam suasana hati yang positif menjelang Piala Dunia, dengan pelatih yakin bahwa pertandingan persahabatan yang menantang tersebut memberikan ujian yang tepat seperti yang dibutuhkan.
Meskipun performa masih bisa ditingkatkan, kemenangan dan pelajaran yang didapat dari tim Nigeria yang kompetitif telah memperkuat kepercayaan diri di dalam tim saat mereka bersiap untuk memulai kampanye mereka melawan DR Congo.
